Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Pandangan Teologis tentang Perjamuan Kudus dalam Kekristenan

 


Kenapa Perjamuan Kudus Selalu Menarik Dibahas?

Hampir semua gereja Kristen merayakan Perjamuan Kudus. Bentuknya mirip: roti dan anggur, doa, lalu dibagikan kepada jemaat. Tapi di balik kesamaan itu, ternyata ada perbedaan cara memahami maknanya.

Ada gereja yang meyakini Kristus sungguh hadir di dalam roti dan anggur. Ada juga yang melihatnya sebagai simbol iman dan peringatan akan salib. Perbedaan inilah yang membuat Perjamuan Kudus selalu menarik untuk dibahas.

Secara garis besar, ada tiga pandangan teologis paling terkenal tentang Perjamuan Kudus dalam Kekristenan.

Sekilas: Apa Itu Perjamuan Kudus?

Perjamuan Kudus berakar dari Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Saat itu Yesus berkata:

“Inilah tubuh-Ku… inilah darah-Ku… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Sejak saat itu, gereja mempraktikkan Perjamuan Kudus sebagai:

  • pengingat pengorbanan Kristus

  • tanda persekutuan jemaat

  • ekspresi iman dan ketaatan

Namun, bagaimana memahami perkataan Yesus itu? Di sinilah muncul perbedaan pandangan.

1. Transubstansiasi: Tubuh dan Darah Kristus Secara Nyata

Pandangan transubstansiasi adalah ajaran resmi Gereja Katolik Roma dan salah satu pemahaman paling mendalam tentang Perjamuan Kudus. Menurut pandangan ini, ketika roti dan anggur dikonsekrasi, substansinya berubah sepenuhnya menjadi tubuh dan darah Kristus, meskipun bentuk lahiriahnya tetap roti dan anggur. Pemikiran ini banyak dijelaskan oleh Thomas Aquinas, yang menggunakan filosofi Aristoteles untuk membedakan antara substansi dan aksiden. Dalam konteks Alkitab, transubstansiasi didukung oleh perkataan Yesus dalam Matius 26:26–28 dan Yohanes 6:51–56, di mana Kristus menyatakan, “Akulah roti hidup… siapa yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia hidup oleh-Ku.”

Dengan pemahaman ini, Perjamuan Kudus menjadi perjumpaan langsung dengan Kristus, bukan sekadar simbol. Jemaat yang berpartisipasi diyakini menerima Kristus secara nyata dan penuh, sehingga liturgi Ekaristi diperlakukan dengan kekhidmatan tinggi. Transubstansiasi menekankan bahwa sakramen adalah sarana anugerah ilahi yang menghadirkan Kristus secara substansial, dan jemaat diajak untuk menghayati kehadiran-Nya melalui doa, penghormatan, dan devosi.

2. Kehadiran Nyata: Pandangan Lutheran

Pandangan Lutheran, yang dikembangkan oleh Martin Luther, menawarkan posisi tengah antara Katolik dan Reformasi Radikal. Luther menolak gagasan transubstansiasi karena terlalu filosofis, namun ia juga tidak menerima pandangan yang menganggap Perjamuan Kudus hanyalah simbol. Menurutnya, Kristus sungguh hadir dalam roti dan anggur, tetapi tanpa perubahan hakikat materi. Dengan kata lain, roti tetap roti, anggur tetap anggur, namun Kristus hadir sakramental.

Dasar alkitabiah pandangan ini tetap merujuk pada perkataan Yesus dalam Matius 26:26–28 dan penekanan Paulus di 1 Korintus 11:27–29, yang menekankan penerimaan Perjamuan Kudus harus dilakukan dengan iman dan kesadaran akan tubuh Kristus. Luther menekankan bahwa Perjamuan Kudus adalah sarana anugerah di mana Allah bekerja melalui firman dan sakramen, menghadirkan Kristus bagi jemaat yang percaya. Pendekatan ini memberi jemaat kesempatan untuk merasakan kehadiran Kristus secara nyata, sekaligus menegaskan misteri iman, tanpa perlu memahami perubahan metafisik yang rumit.

3. Memorialisme: Perjamuan Kudus sebagai Peringatan

Pandangan memorialisme dikembangkan oleh Ulrich Zwingli, tokoh Reformasi di Swiss pada abad ke-16. Zwingli menekankan bahwa roti dan anggur hanya simbol tubuh dan darah Kristus, dan kehadiran Kristus bersifat rohani melalui iman, bukan fisik. Dasar utama pandangan ini terdapat dalam Lukas 22:19: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” dan Yohanes 6:63: “Roh memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Firman yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”

Bagi Zwingli, inti Perjamuan Kudus adalah peringatan dan refleksi iman, bukan perubahan materi atau kehadiran fisik. Praktiknya sederhana dan menekankan pembelajaran iman, penguatan komunitas, serta kesadaran akan kasih dan pengorbanan Kristus. Jemaat diajak menyadari bahwa setiap tindakan makan roti dan minum anggur adalah momen rohani yang memperkuat hubungan mereka dengan Kristus, sekaligus menumbuhkan kesatuan komunitas. Dengan demikian, memorialisme menekankan kesederhanaan dan refleksi pribadi, menjadikan Perjamuan Kudus sebagai sarana untuk mengingat karya keselamatan Kristus secara rohani.

Penutup

Perjamuan Kudus bukan sekadar ritual gereja, tetapi momen iman yang kaya makna. Tiga pandangan teologisctransubstansiasi, kehadiran nyata Lutheran, dan memorialisme menunjukkan upaya manusia memahami misteri Kristus di balik roti dan anggur.

Dengan memahami perbedaan ini, jemaat dapat:

  • lebih dewasa dalam berteologi,

  • menghargai tradisi lain,

  • tetap fokus pada inti Perjamuan Kudus: Yesus Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.

Menyadari perbedaan ini bukan untuk memisahkan, tetapi memperkaya iman dan membangun dialog yang sehat antar-denominasi. Karena pada akhirnya, semua pandangan sepakat: Perjamuan Kudus menunjuk pada karya keselamatan Kristus dan kasih-Nya bagi umat manusia.